Di tengah chat progress kerja yang mulai bikin kepala panas, pernah nggak sih kalian melakukan satu hal yang mungkin tidak pernah diajarkan di buku etika profesi?
Kirim stiker kucing.
Biasanya stiker itu muncul di momen-momen yang sangat manusiawi: lagi jengkel, capek, update progress, atau sekadar ngeluh ke teman kantor karena otak sudah mulai berasap.
Kadang, aku juga pernah kirim stiker seperti itu ke klien.
Bukan ke klien yang boomer dan kaku, ya.
Biasanya ke pegawai klien yang seumuran, yang gaya komunikasinya memang lebih cair. Orang-orang yang kalau kita terlalu formal justru rasanya aneh.
Kayak, ini kita lagi kerja bareng atau lagi saling kirim surat dinas?
Dari situ aku jadi kepikiran.
Sebenarnya, boleh nggak sih pakai stiker kucing di kantor?
Pertanyaan ini kelihatannya receh. Tapi makin dipikir, ternyata ini bukan cuma soal stiker.
Ini soal bagaimana kita memaknai profesionalisme.
Profesional Harus Selalu Kaku?
Selama ini, profesionalisme sering dibayangkan sebagai sesuatu yang kaku.
Kalimat harus rapi.
Nada harus netral.
Emoji dikurangi.
Stiker? Jangan.
Semua harus terdengar seperti email resmi yang lahir dari template corporate communication.
Padahal, kerja itu tidak terjadi di antara dokumen saja.
Kerja terjadi di antara manusia.
Dan manusia punya capek. Punya tensi. Punya hari yang panjang. Punya klien yang kadang susah dimintai data. Punya chat yang belum dibalas-balas. Punya update yang harus dikejar.
Dan tentu saja, punya kalimat yang sebenarnya ingin keluar tapi jelas tidak mungkin ditulis apa adanya. :")
Di titik itu, komunikasi yang terlalu kaku kadang justru tidak membantu.
Pekerjaannya Serius, Bukan Berarti Komunikasinya Harus Dingin
Sebagai akuntan, aku tahu orang akan memperhatikan apa yang aku kirim.
Kalau aku minta data, itu bukan basa-basi.
Kalau aku follow up, biasanya ada deadline.
Kalau aku bilang ada yang perlu dikonfirmasi, berarti memang ada sesuatu yang harus dibereskan.
Pekerjaannya memang serius.
Tapi justru karena serius, tensinya perlu dijaga.
Kalau semuanya dibungkus dengan bahasa yang terlalu dingin, komunikasi bisa terasa berat. Klien makin sungkan. Teman kerja makin tegang.
Padahal, yang kita butuhkan sering kali sederhana:
informasi masuk, pekerjaan bergerak, suasana nggak perlu tambah panas.
Menurutku, mencairkan suasana kadang lebih berguna daripada sekadar terlihat profesional tapi kaku.
Tapi Bukan Berarti Semua Orang Dikirimi Stiker Kucing
Tentu saja, bukan berarti semua orang bisa dikirimi stiker kucing.
Kalau sedang chat dengan partner audit, owner klien, atau membahas sesuatu yang sensitif, ya bahasanya harus lebih rapi.
Ada ruang yang memang membutuhkan formalitas.
Ada orang yang lebih nyaman dengan komunikasi tegas dan resmi.
Ada konteks yang memang tidak cocok diselipi bercandaan.
Tapi kalau komunikasinya dengan pegawai klien yang seumuran, ritmenya sudah santai, dan hubungan kerjanya sudah cukup cair~
kenapa harus selalu dibuat kaku?
Santai bukan berarti sembarangan.
Dan menurutku, ini bagian yang paling penting.

Komunikasi Itu Soal Nada. Presisi Itu Soal Isi.
Kita bisa pakai bahasa yang lebih manusiawi, tapi tetap jelas apa yang diminta.
Kita bisa mencairkan suasana, tapi tetap tahu deadline.
Kita bisa kirim stiker kucing, tapi setelah itu tetap kasih konteks, angka, dokumen, atau instruksi yang dibutuhkan.
Yang bahaya bukan stikernya. Yang bahaya adalah ketika gaya komunikasi yang santai membuat pekerjaan ikut menjadi santai.
Ketika informasi jadi kabur.
Ketika bercanda dipakai untuk menghindari tanggung jawab.
Ketika komunikasinya cair, tapi pekerjaannya nggak jalan.
Nah, itu baru masalah.
Tapi kalau satu stiker kecil bisa menurunkan tensi, membuat orang lebih nyaman merespons, tanpa mengganggu presisi pekerjaan?
Mungkin dia bukan musuh profesionalisme.
Mungkin dia cuma bantalan kecil di tengah pekerjaan yang serius.
Profesionalisme yang Lebih Manusiawi
Aku rasa kantor tidak selalu butuh lebih banyak kalimat kaku.
Kadang kantor cuma butuh komunikasi yang tetap manusiawi, supaya orang tidak merasa sedang berhadapan dengan mesin.
Karena pada akhirnya, profesionalisme bukan soal seberapa dingin cara kita bicara.
Profesionalisme adalah tahu dengan siapa kita bicara, dalam konteks apa, dan seberapa jelas pesan kita tersampaikan.
Jadi iya, mungkin kita memang perlu bahasa yang lebih formal saat bicara dengan partner audit atau owner klien.
Tapi kalau dengan teman kerja atau pegawai klien yang sudah satu frekuensi?
Santai je kalee.
Kita kan juga manusia.
Santai dalam gaya, presisi dalam kerja.
